Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Fiqih Wanita 5 : Hukum Ketika Suci dari Haid dan Cara Mengetahuinya

 

بسم الله الرحمن الرحيم ، الحمد لله رب العالمين ، و الصلاة و السلام على سيدنا محمد ، على آله و صحبه أجمعين ، و بعد :

Ketika wanita sedang haid ada beberapa perkara yang harus dijauhi dan ditinggalkan. Semua perkara tersebut Alhamdulillah sudah kita bahas pada pengajian sebelumnya secara singkat dan lengkap. 

Untuk mengingat kembali, tidak ada salahnya kita sebutkan lagi hal-hal yang diharamkan bagi wanita haid satu persatu. Yaitu :

1. Shalat

2. Thawaf

3. Menyentuh Al-Qur'an

4. Membawa Al-Qur'an

5. Membaca Al-Qur'an

6. Berdiam di Masjid

7. Puasa

8. Talak

9. Jima'

10. Istimta'

11. Bersuci dengan niat ibadah

Saat wanita sudah berhenti darah haidnya, apakah ia sudah boleh melakukan apa yang sebelumnya dilarang? Ataukah dia harus mandi wajib terlebih dahulu baru boleh melakukannya? Juga bagaimana cara mengetahui bahwa darah sudah berhenti?

*****

Hukum Ketika Darah Haid Berhenti

Saat darah haid berhenti dan belum mandi wajib, hanya boleh melakukan 4 hal yang sebelumnya terlarang bagi wanita haid Yaitu :

1. Puasa

2. Talak

3. Bersuci dengan niat ibadah

4. Melewati masjid

Keempat hal diatas boleh dilakukan asalkan darah haid sudah berhenti walaupun belum mandi wajib.

Adapun hal terlarang lainnya seperti shalat, thawaf, menyentuh, membawa dan membaca Al-Qur'an, berdiam di Masjid, jima' dan juga istimta', belum boleh dilakukan kecuali jika ia sudah bersuci dari hadast besar dengan melakukan mandi wajib atau mandi junub.

Imam Nawawi menerangkan dalam kitab Minhaj :

فإذا انقطع لم يحل قبل الغسل غير الصوم و الطلاق 

"Apabila darah terputus maka tidak halal (dilakukan) sebelum mandi wajib selain puasa dan talak."

Dalam kitab Umdatus Salik wa 'Uddatun Nasik (عمدة السالك و عدة الناسك) karya Syeikh Muhammad Az-Zuhri Al-Ghamrawy juga disebutkan :

فإن انقطع الدم ارتفع تحريم الصوم و الطلاق و الطهارة و عبور المسجد و يبقى الباقي حتى تغتسل .

"Jika darah haid berhenti keluar maka hilanglah keharaman berpuasa, talak, bersuci (dengan niat ibadah) dan juga melewati masjid. Sedangkan keharaman perkara yang tersisa masih tetap ada hingga dia mandi wajib."

*****

Cara Mengetahui Suci dari Haid

Pada dasarnya seorang wanita dihukumi suci dari haid ketika dia betul-betul yakin bahwa darah haidnya sudah berhenti dan tidak keluar lagi meskipun hanya flek yang berwarna kuning atau kecoklatan. Jika darah masih belum terputus, maka dia masih belum bisa dihukumi suci dari haid.

Untuk bisa mengetahui apakah seorang wanita sudah suci dari haid atau belum, ada beberapa tips dan langkah yang sebaiknya dia lakukan di penghujung masa haid.

 Tipsnya adalah sebagai berikut :

1. Siapkan kapas yang bersih terlebih dahulu. Kapas inilah yang akan digunakan untuk memastikan berhentinya darah haid.

2. Buang air kecil lalu beristinja sekaligus membersihkan kemaluan dari kotoran dan darah. 

3. Setelah selesai istinja dan membersihkan kemaluan, gunakan kapas yang sudah dipersiapkan untuk dimasukkan sedikit ke dalam kemaluan, lalu lihat permukaan kapas.  Jika kapas bersih dan tidak bernoda maka ia sudah suci. Namun jika ada noda meskipun hanya flek kecoklatan atau kekuningan, artinya dia masih dalam keadaan haid.

Alasan mengapa dianjurkan beristinja sebelum menggunakan kapas adalah selain agar kemaluan bersih dari kotoran, juga agar kemaluan bersih darah haid lama yang mungkin saja tertinggal. 

Jika kapas dimasukkan dalam keadaan demikian lalu ada flek yang menempel, kita tidak bisa memastikan apakah flek tersebut adalah darah haid yang baru atau bukan. Karena bisa saja yang menempel itu kotoran atau darah haid lama yang tertinggal.

Jadi, untuk menghindari ketidak pastian ini, dianjurkan bagi wanita untuk membersihkan kemaluannya sebelumnya memeriksanya menggunakan kapas.

Penting :

Jika seorang wanita punya kebiasaan darah haid keluar lagi setelah berhenti, apakah ketika darah berhenti ia wajib mandi dan shalat?

Dalam masalah ini ulama fiqih madzhab Syafi'i berselisih dalam 2 pendapat :

1. Dia tidak wajib mandi, sholat dan lainnya karena bercermin kepada kebiasaan pada bulan sebelumnya darah haid akan keluar lagi. Ini adalah pendapat Imam Rafi'i.

2. Dia dihukumi suci sehingga wajib mandi, shalat dan lainnya walaupun punya kebiasaan darah keluar lagi setelah berhenti. Ini adalah pendapat Imam Nawawi dan merupakan pendapat yang paling kuat (mu'tamad) dalam madzhab Syafi'i.

Semoga bermanfaat.

Hanif Firdaus Bsc, Alumni Al-Ahgaff University, Hadramaut, Yaman.

Posting Komentar untuk "Fiqih Wanita 5 : Hukum Ketika Suci dari Haid dan Cara Mengetahuinya "